Tokenisasi aset dunia nyata kini telah melampaui pertanyaan apakah aset-aset tersebut dapat dimasukkan ke dalam blockchain. Menurut Kevin Yunai, pendiri dan CEO RWA Inc, tantangan berikutnya adalah mengubah aset-aset tersebut menjadi instrumen keuangan yang likuid, sesuai regulasi, dan produktif.
Kevin Yunai dari RWA Inc Mengatakan Platform Harus Meningkatkan Likuiditas untuk Membuka Potensi Pasar RWA Senilai $320 Miliar

Poin-poin Utama
- Kevin Yunai mengatakan bahwa RWA membutuhkan likuiditas, kepatuhan, dan kegunaan yang melampaui sekadar tokenisasi.
- RWA Inc memandang bahwa kepercayaan, distribusi, dan likuiditas akan menjadi pendorong fase berikutnya dari pasar aset yang ditokenisasi.
- Kevin Yunai memperkirakan kemajuan dalam lima tahun ke depan melalui pasar RWA yang lebih mendalam dan standar institusional.
Aset yang Ditokenisasi Harus Dapat Diperdagangkan untuk Mengungkap Nilai Sebenarnya
Sektor aset dunia nyata (RWA) telah menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk membuktikan bahwa aset tradisional dapat direpresentasikan dalam rantai blok. Bagi Kevin Yunai, pendiri dan CEO RWA Inc, perdebatan tersebut kini sebagian besar telah terselesaikan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah aset yang ditokenisasi dapat menciptakan pasar keuangan yang lebih baik.
"Tokenisasi sederhana hanyalah menempatkan representasi aset di blockchain," kata Yunai. "Keuangan blockchain yang produktif terjadi ketika aset tersebut menjadi dapat digunakan: dapat diperdagangkan, dapat dibiayai, dapat dijadikan jaminan, dapat diintegrasikan, transparan, dan terhubung dengan imbal hasil ekonomi riil."
Perbedaan tersebut menjadi inti dari fase berikutnya di pasar RWA. Tokenisasi saja dapat menciptakan ‘bungkus’ digital di sekitar suatu aset, tetapi hal itu tidak secara otomatis menciptakan likuiditas, permintaan investor, transparansi, atau kepercayaan institusional. Inovasi sesungguhnya dimulai ketika aset yang ditokenisasi menjadi instrumen keuangan yang dapat diprogram dan terhubung dengan arus kas yang terverifikasi, pengungkapan informasi yang tepat, transferabilitas yang sesuai peraturan, serta infrastruktur pasar yang dapat digunakan.
Menurut Yunai, sektor ini harus beralih dari penerbitan ke kegunaan. Platform terkuat tidak hanya akan membantu penerbit mencetak token yang didukung aset. Mereka akan membantu token-token tersebut berfungsi di dalam ekosistem keuangan yang lebih luas, dengan akses ke dompet, bursa, kustodian, infrastruktur DeFi, sistem pelaporan, dan pasar sekunder yang sesuai peraturan.
"Tokenisasi saja bukanlah inovasi," katanya. "Inovasi adalah mengubah aset dunia nyata menjadi instrumen keuangan yang dapat diprogram dengan pasokan tetap."
Likuiditas Membutuhkan Lebih dari Sekadar Mencetak Token
Hambatan berikutnya dalam industri RWA bukanlah penciptaan aset. Melainkan kemampuan untuk diperdagangkan.
Saat ini ada banyak aset yang telah ditokenisasi, tetapi relatif sedikit yang benar-benar likuid. Yunai percaya hal ini disebabkan karena pasar terlalu berfokus pada platform penerbitan, sementara kurang membangun infrastruktur yang diperlukan untuk mendukung pasar yang aktif dan tepercaya.
"Industri ini membutuhkan lebih dari sekadar platform penerbitan," katanya. "Industri ini membutuhkan infrastruktur pasar yang lengkap."
Infrastruktur tersebut mencakup pasar sekunder yang diatur, pembuat pasar yang andal, pengungkapan informasi yang terstandarisasi, penyimpanan yang tepercaya, penetapan harga yang terverifikasi, kepatuhan yang saling terintegrasi, lapisan identitas, penyelesaian transaksi institusional, dan mekanisme penebusan yang jelas.
Tanpa komponen-komponen tersebut, RWA yang ditokenisasi berisiko menjadi sekadar sertifikat digital statis, bukan instrumen keuangan yang aktif. Investor perlu memahami apa yang mereka miliki, bagaimana aset tersebut dinilai, risiko apa yang mereka hadapi, dan bagaimana mereka dapat membuka atau menutup posisi berdasarkan aturan yang jelas.
Bagi Yunai, likuiditas tidak diciptakan dengan mencetak token. Likuiditas diciptakan oleh kepercayaan, standar, distribusi, dan kedalaman pasar. Artinya, sektor RWA harus mengembangkan fondasi institusional yang sama yang mendukung pasar tradisional sambil memanfaatkan infrastruktur blockchain untuk membuat pasar tersebut lebih transparan, efisien, dan dapat diakses.
Menghormati Baik Blockchain Maupun Realitas Hukum
Kesalahan yang sering terjadi dalam tokenisasi adalah menganggap bahwa efisiensi blockchain dapat menggantikan disiplin hukum dan operasional. Yunai menolak pandangan tersebut.
"Anda harus menghormati kedua dunia tersebut," katanya. "Blockchain memberikan kecepatan, transparansi, otomatisasi, dan jangkauan global. Aset dunia nyata memerlukan keberlakuan hukum, struktur kepemilikan, penitipan aset, KYC, pelaporan, penilaian, dan proses penebusan."
Keseimbangan ini sangat penting. Aset yang ditokenisasi hanya memiliki nilai jika token tersebut terhubung dengan hak ekonomi atau hak kepemilikan yang didefinisikan dengan jelas. Hak tersebut harus didukung oleh dokumentasi hukum, penitipan aset, aturan kelayakan investor, pembatasan transfer, kewajiban pelaporan, dan prosedur penebusan.
Dengan kata lain, token tidak dapat beredar secara terpisah dari aset dunia nyata yang diwakilinya. Struktur hukumnya harus dapat ditegakkan. Aset tersebut harus dapat diverifikasi. Hak-hak investor harus jelas.
“Di RWA Inc, kami tidak percaya bahwa realitas hukum bisa diabaikan hanya karena suatu aset telah ditokenisasi,” kata Yunai. “Model yang tepat adalah menggabungkan struktur hukum yang sesuai dengan regulasi dengan infrastruktur blockchain yang efisien.”
Blockchain dapat meningkatkan infrastruktur keuangan, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan akan tata kelola yang tepat. Khususnya bagi lembaga, perbedaan tersebut akan menentukan apakah RWA tetap menjadi eksperimen kripto-asli atau menjadi kelas aset arus utama.
Akses Lebih Penting daripada Likuiditas
Argumen umum mengenai tokenisasi adalah bahwa hal itu akan membuat aset yang secara tradisional tidak likuid menjadi lebih mudah diperdagangkan. Yunai percaya hal ini benar, tetapi belum lengkap. Manfaat pertama adalah akses.
Sebelum tokenisasi, banyak investor tidak dapat mengakses aset swasta karena kendala geografis, regulasi, besaran investasi minimum yang tinggi, batasan perbankan, atau kendali perantara. Tokenisasi dapat mengurangi beberapa hambatan tersebut dengan membuat partisipasi menjadi lebih efisien, fraksional, dan dapat diakses secara global.
Likuiditas akan menyusul kemudian.
"Keduanya penting, tetapi akses lebih diutamakan," kata Yunai. "Anda tidak dapat memiliki likuiditas yang berkelanjutan tanpa akses yang tepercaya terlebih dahulu."
Urutan tersebut penting. Jika suatu aset dibuat dapat diperdagangkan sebelum investor mempercayai strukturnya atau memahami risikonya, likuiditas apa pun yang muncul mungkin dangkal atau sementara. Likuiditas yang berkelanjutan bergantung pada akses yang kredibel, distribusi yang patuh, informasi yang terverifikasi, dan kepercayaan terhadap aturan pasar.
Oleh karena itu, janji terbesar dari tokenisasi bukan sekadar bahwa investor dapat menjual aset dengan lebih mudah. Melainkan, lebih banyak investor dapat berpartisipasi dalam peluang yang sebelumnya tidak tersedia bagi mereka.
Standar yang Dibutuhkan Institusi
Agar RWA menjadi arus utama, investor institusional membutuhkan kepercayaan. Hal itu membutuhkan lebih dari sekadar infrastruktur teknis.
Yunai percaya bahwa pasar membutuhkan standar yang jelas seputar verifikasi aset, penyimpanan, keberlakuan hukum, penilaian, pengungkapan, audit, kepatuhan, kontrol KYC dan AML, pembatasan transfer, hak penebusan, serta pelaporan berkelanjutan.
Tujuannya adalah keterbandingan. Lembaga-lembaga perlu dapat mengevaluasi aset yang ditokenisasi dengan cara yang sama disiplinnya seperti saat mereka mengevaluasi produk keuangan tradisional. Mereka perlu mengetahui apa yang mereka miliki, siapa yang mengendalikan aset tersebut, bagaimana arus kas ditangani, apa yang terjadi jika terjadi gagal bayar, bagaimana sengketa diselesaikan, dan bagaimana informasi dilaporkan dari waktu ke waktu.
Tanpa standar yang sama, pasar RWA berisiko terpecah-pecah. Setiap penerbit, platform, yurisdiksi, dan kategori aset dapat beroperasi berdasarkan asumsi yang berbeda-beda, sehingga menyulitkan investor untuk menilai risiko di seluruh produk. Namun, dengan adanya standar, RWA dapat menjadi lebih dari sekadar kumpulan eksperimen tokenisasi yang terpisah-pisah. RWA dapat menjadi kelas aset institusional.
Di Mana Nilai Terakumulasi dalam Rangkaian RWA
Seiring dengan semakin matangnya tokenisasi, nilai tidak akan terdistribusi secara merata di seluruh tumpukan. Pencipta aset, kustodian, penyedia kepatuhan, bursa, dan protokol DeFi semuanya memiliki peran penting. Namun, Yunai percaya bahwa posisi paling strategis akan dimiliki oleh platform yang mengendalikan kepercayaan, distribusi, dan likuiditas.
"Nilai terbesar akan mengalir ke platform-platform yang mengendalikan kepercayaan, distribusi, dan likuiditas," katanya.
Artinya, pemenangnya tidak selalu perusahaan yang menokenisasi aset terbanyak. Penerbitan hanyalah salah satu bagian dari pasar. Peluang yang lebih menjanjikan adalah membangun jaringan keuangan tepercaya di sekitar aset yang telah ditokenisasi.
Jaringan-jaringan ini perlu menghubungkan pencipta aset, investor, kustodian, sistem kepatuhan, data penetapan harga, tempat perdagangan, dan infrastruktur pelaporan. Mereka juga perlu memberikan keyakinan bahwa aset yang ditokenisasi tersebut nyata, dapat ditegakkan, patuh terhadap peraturan, dan dapat digunakan.
Dalam jangka panjang, Yunai percaya bahwa investor juga harus memperoleh nilai yang berarti. Jika tokenisasi berjalan sesuai rencana, hal ini seharusnya mengurangi gesekan, meningkatkan transparansi, menurunkan hambatan akses, dan membuka pintu menuju peluang berkualitas lebih tinggi.
Hasil yang sesungguhnya bukanlah menokenisasi aset demi tokenisasi itu sendiri. Melainkan membangun pasar yang lebih efisien di sekitar aset tersebut.
Dari Niche Kripto Menuju Infrastruktur Pasar Modal
Sektor RWA sering diukur berdasarkan nilai total aset yang ditokenisasi. Yunai percaya bahwa angka tersebut memang penting, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya tolok ukur kesuksesan.
"Keberhasilan bukan hanya sekadar triliunan dolar yang ditokenisasi," katanya. "Angka tersebut akan tercapai jika infrastrukturnya dibangun dengan benar."
Tanda kemajuan yang lebih bermakna adalah adanya pasar sekunder yang mendalam, standar tingkat institusional, akses investor global, pelaporan yang transparan, serta aset-aset yang ditokenisasi menjadi bagian dari infrastruktur keuangan sehari-hari.
Dalam lima tahun ke depan, Yunai tidak ingin RWA dipandang sebagai ceruk pasar kripto. Ia melihatnya sebagai bagian dari evolusi pasar modal berikutnya, di mana aset riil, jalur digital, akses yang sesuai peraturan, dan keuangan yang dapat diprogram beroperasi secara bersamaan.
Visi tersebut menuntut industri untuk melampaui sekadar penerbitan dasar. Diperlukan kedalaman pasar, kejelasan hukum, perlindungan investor, infrastruktur tepercaya, serta aset yang menghasilkan nilai ekonomi nyata.
"Tujuannya bukan sekadar menokenisasi sistem keuangan lama," kata Yunai. "Tujuannya adalah membangun sistem yang lebih baik."
Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris menggunakan AI. Versi asli berbahasa Inggris adalah sumber yang berwenang; terjemahan otomatis dapat mengandung ketidakakuratan, terutama dalam terminologi hukum dan peraturan.















