Harga Bitcoin mengawali bulan September dengan pergerakan naik-turun, ditandai oleh fluktuasi intraday antara $77.283 dan sedikit di atas $78.000. Volatilitas ini terjadi setelah lonjakan 25% pada Agustus 2026, yang membuat kapitalisasi pasar Bitcoin tetap stabil di angka $1,57 triliun.
Fluktuasi Harga Bitcoin Semakin Kuat Seiring Anjloknya Pasar Obligasi yang Mengguncang Pasar

Poin-poin Utama
- Harga Bitcoin berfluktuasi di sekitar $77.283 dan $78.000 pada September 2026 setelah melonjak hampir 25% pada bulan Agustus.
- Aksi jual global terhadap obligasi pemerintah mendorong imbal hasil Treasury 10 tahun ke level tertinggi sejak Januari 2025.
- Keputusan Ketua Fed setelah data inflasi 11 September dan laporan ketenagakerjaan AS akan menentukan pergerakan kripto.
Pada hari Selasa, harga bitcoin mengawali bulan September dengan volatilitas yang khas, berfluktuasi di antara $77.200 dan $78.000 di tengah aksi jual obligasi pemerintah global yang semakin intensif. Pergerakan harga ini terjadi hanya beberapa jam setelah mata uang kripto tersebut mencatatkan salah satu kinerja bulanan terbaiknya di tahun 2026, dengan melonjak hampir 25% pada bulan Agustus.
Data pasar menunjukkan bahwa mata uang kripto ini awalnya tampak siap untuk menutup perdagangan Senin di atas $79.000, hanya beberapa jam setelah diperdagangkan di bawah $77.800. Namun, begitu bitcoin menembus $79.000, pihak penjual kembali mengambil alih kendali, mendorong harga kembali turun ke $78.200 dua jam sebelum tengah malam.
Pola ini terulang ketika bitcoin kembali menembus level $79.000 tepat setelah pukul 01.00 EST, hanya untuk kemudian anjlok di bawah $77.900 dua setengah jam kemudian. Mata uang kripto ini berfluktuasi di sekitar level support $78.000 sebelum aksi jual besar-besaran kembali membuatnya anjlok ke $77.578 pada pukul 09.40 pagi. Pada pukul 10.24 pagi EST, bitcoin telah membalikkan kerugian tersebut dan diperdagangkan di atas $78.200—naik 0,5% dalam sehari. Akibatnya, kapitalisasi pasar bitcoin tetap hampir tidak berubah di angka $1,57 triliun.
Di pasar derivatif, pergerakan harga mempersempit selisih antara likuidasi posisi long dan short. Data dari Coinglass menunjukkan likuidasi posisi long mencapai $33,32 juta, dibandingkan dengan $21,7 juta pada posisi short. Hal ini kontras dengan pasar kripto secara umum, di mana likuidasi posisi long ($102 juta) melampaui likuidasi posisi short ($90,6 juta).

Meningkatnya volatilitas di seluruh pasar kripto terjadi di tengah aksi jual obligasi yang telah mendorong biaya pinjaman di berbagai ekonomi utama ke level tertinggi dalam beberapa dekade dan mengguncang pasar keuangan internasional. Kenaikan harga energi—yang didorong oleh konflik militer di Iran, yang sempat mendorong harga minyak mentah Brent melampaui $90 per barel pada hari Minggu—semakin memperparah kekhawatiran inflasi global.
Aksi Jual Massal Obligasi Global Memicu Volatilitas Makro
Lonjakan imbal hasil yang diakibatkannya meningkatkan biaya pinjaman di seluruh utang negara, pinjaman konsumen, dan utang korporasi di AS, Jepang, Inggris, Prancis, dan Jerman. Selain itu, ledakan pinjaman korporasi oleh perusahaan teknologi yang membangun infrastruktur kecerdasan buatan telah membanjiri pasar pendapatan tetap, sehingga menarik modal menjauh dari utang negara.
Intervensi pemerintah, seperti program pembelian kembali obligasi yang diperluas yang diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent, kemungkinan akan menggembirakan investor kripto, yang telah menyaksikan langkah-langkah serupa yang meningkatkan likuiditas mendorong harga bitcoin naik.
Namun, pengamat pasar meyakini bahwa laporan ketenagakerjaan bulan Agustus yang akan datang dan data inflasi pada 11 September akan menentukan bagaimana Federal Reserve menangani suku bunga dalam rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) akhir bulan ini. Pemotongan suku bunga kemungkinan akan memacu tren kenaikan bitcoin, sedangkan mempertahankan suku bunga dapat membuat aset ini rentan terhadap koreksi.
Artikel ini diterjemahkan dari bahasa Inggris menggunakan AI. Versi asli berbahasa Inggris adalah sumber yang berwenang; terjemahan otomatis dapat mengandung ketidakakuratan, terutama dalam terminologi hukum dan peraturan.











