Investor institusi global kini memprioritaskan diversifikasi daripada spekulasi dan meningkatkan alokasi kripto meskipun ada kehati-hatian jangka pendek.
Survei Bank: Investor Institusional Beralih ke Diversifikasi, Memeluk Kripto sebagai Alokasi Strategis

Laporan Future Finance 2025 Sygnum mensurvei lebih dari 1.000 investor institusi dan profesional kripto di 43 negara, dan menemukan bahwa 61% berencana meningkatkan alokasi aset digital sementara hanya 4% yang berencana mengurangi, meskipun sentimen berubah menjadi netral atau bearish dalam satu tahun; 76% menyukai investasi langsung token dan 55% mendukung produk yang diperdagangkan di bursa. Laporan ini menyoroti meningkatnya minat terhadap aset dunia nyata yang ditokenisasi dan stablecoin, dan mencatat bahwa 91% individu dengan kekayaan bersih tinggi (HNWIs) melihat kripto sebagai perlindungan kekayaan jangka panjang terhadap depresiasi fiat.
Pendorong utamanya termasuk diversifikasi portofolio (57%) menggeser pengembalian jangka pendek sebagai tesis utama, keyakinan luas bahwa bitcoin adalah cadangan treasury yang layak (80%+), dan 70% mengatakan uang tunai membawa biaya peluang tinggi dibandingkan bitcoin dalam lima tahun; lebih dari 80% menginginkan dana yang diperdagangkan di bursa kripto (ETFs) di luar bitcoin dan ethereum, dengan 70% bersedia mengalokasikan lebih banyak jika staking ditawarkan. Laporan tersebut menandai ketidakpastian regulasi dan penyimpanan/keamanan sebagai hambatan utama, dan mengatakan alokasi Q4 bergantung pada katalis pasar yang tertunda dan hasil regulasi.
š§ FAQs
⢠Apa cakupan regional dari laporan Sygnum? Survei mencakup investor institusi di 43 negara secara global.
⢠Berapa banyak investor yang disurvei untuk laporan Future Finance 2025? Sygnum mensurvei lebih dari 1.000 investor institusi dan profesional.
⢠Berapa proporsi investor yang berencana meningkatkan alokasi kripto? Enam puluh satu persen responden berencana meningkatkan alokasi aset digital.
⢠Apakah institusi mencari produk di Jepang dan APAC? APAC menunjukkan kekhawatiran regulasi yang lebih kuat, namun institusi di Jepang dan APAC tetap tertarik dengan produk kripto yang terdiversifikasi.









