Negara-negara BRICS meningkatkan perdagangan dalam mata uang nasional, sebuah langkah yang ditekankan Iran sebagai penting untuk mengurangi ketergantungan pada dolar dan mengatasi dampak ekonomi dari sanksi.
BRICS Menantang Dominasi Dolar: Iran Mendukung Kerangka Mata Uang Lokal
Artikel ini diterbitkan lebih dari setahun yang lalu. Beberapa informasi mungkin sudah tidak terkini.

Memutus Ketergantungan dari Dolar: Iran Mendorong BRICS Menuju Kedaulatan Finansial
Negara-negara di seluruh dunia semakin mengurangi ketergantungan pada dolar AS dalam perdagangan internasional, menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika keuangan global. Pada 22 Januari, pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menekankan penggunaan mata uang nasional yang semakin meningkat dalam transaksi antar negara-negara BRICS sebagai langkah penting dalam mengurangi ketergantungan pada dolar.
Khamenei menekankan pentingnya transisi ini dalam mengatasi tantangan ekonomi. Dia mengatakan dalam sebuah pernyataan yang dirilis oleh layanan persnya:
Salah satu tantangan kita adalah ketergantungan pada dolar. Kerangka keuangan BRICS dan transaksi antara negara-negara BRICS dalam mata uang lokal tanpa diragukan akan membantu mengatasi masalah ini.
“Negara yang terkena sanksi harus lebih fokus pada kemampuan internalnya dan memanfaatkannya untuk mencapai tujuannya,” tambah pemimpin Iran itu. Blok ekonomi BRICS sekarang terdiri dari 10 negara anggota: Brasil, Rusia, India, Tiongkok, Afrika Selatan, Mesir, Ethiopia, Iran, Uni Emirat Arab (UEA), dan Indonesia.
Tren dedolarisasi tercermin dalam semakin meningkatnya penggunaan mata uang nasional dalam perdagangan di antara negara-negara BRICS. Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mencatat pada bulan November lalu bahwa transaksi dalam mata uang nasional di antara anggota BRICS menyumbang 65% dari total perdagangan. Pencapaian ini menunjukkan kemajuan signifikan dalam mengurangi ketergantungan pada dolar untuk transaksi bilateral dan multilateral.
Selain BRICS, koalisi internasional lainnya, seperti Perhimpunan Bangsa-bangsa Asia Tenggara (ASEAN), juga sedang mengeksplorasi strategi untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Upaya-upaya ini mewakili inisiatif global yang lebih luas untuk mendiversifikasi penggunaan mata uang dalam perdagangan internasional dan mengurangi risiko terkait ketergantungan berlebihan pada satu mata uang.
Sanksi yang dikenakan oleh AS pada negara-negara seperti Rusia dan Iran telah mempercepat upaya untuk mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan global. Dengan mengadopsi mata uang alternatif dan kerangka keuangan, negara-negara berusaha untuk melewati tantangan ekonomi yang disebabkan oleh sanksi berbasis dolar, sehingga mendapatkan otonomi ekonomi yang lebih besar.









