Didukung oleh
Crypto News

Bisakah Tokyo Membangun Infrastruktur Kripto Paling Terpercaya di Asia?

Tokyo memang sedang berada dalam momentum yang kuat, namun penerapan kripto secara institusional di kota ini tidak akan dibangun hanya berdasarkan spekulasi semata. Keunggulan utama Jepang mulai terlihat dalam sistem keuangan yang patuh terhadap regulasi dan infrastruktur yang teregulasi, meskipun dalam hal kecepatan, keragaman produk, dan likuiditas global, Jepang masih tertinggal dari pusat-pusat keuangan pesaingnya.

DITULIS OLEH
BAGIKAN
Bisakah Tokyo Membangun Infrastruktur Kripto Paling Terpercaya di Asia?

Poin Utama

  • Otoritas Jasa Keuangan Jepang (FSA) menyebutkan 12 juta akun dan aset senilai $31 miliar pada tahun 2025, yang mendorong upaya regulasi kripto di Tokyo.
  • JVCEA mencatat 32 bursa dan volume sekitar $10 miliar per Februari 2026, namun kesenjangan likuiditas dibandingkan dengan pusat-pusat global tetap ada.
  • FSA berencana beralih ke aturan FIEA pada tahun 2026, yang memposisikan Tokyo untuk pertumbuhan institusional daripada spekulasi.

Ambisi Kripto Tokyo Menghadapi Ujian Institusional

Teamz Summit di Tokyo dibuka pada 7 April dengan seruan agar Jepang menjadi pusat kripto yang lebih besar, mendominasi perbincangan. Acara ini dijelaskan sebagai salah satu acara teknologi internasional terbesar di Jepang dan terkemuka di Asia, mengumpulkan sekitar 10.000 peserta dari berbagai bidang seperti Web3, AI, startup, investasi, dan kebijakan.

Pertanyaan sulitnya bukanlah apakah Tokyo menginginkan peran tersebut. Melainkan apakah Tokyo dapat memenangkan relevansi institusional, dan atas dasar apa. Keunggulan Jepang kemungkinan besar bukanlah sensasi spekulatif. Melainkan pembangunan bertahap struktur pasar yang diatur.

Hal itu penting karena negara ini sudah memiliki skala yang nyata. Badan Layanan Keuangan Jepang (FSA) menyatakan pada 2025 bahwa jumlah akun bursa kripto telah melampaui 12 juta, dan aset pengguna yang disimpan dalam kustodi telah melebihi $31 miliar (¥5 triliun) per akhir Januari 2025.

Pada April 2026, data Asosiasi Pertukaran Aset Virtual dan Kripto Jepang (JVCEA) menunjukkan 32 operator bursa aset kripto aktif, dengan volume perdagangan spot pada Februari 2026 sekitar $10 miliar (¥1,62 triliun) dan perdagangan margin sekitar $9,6 miliar (¥1,54 triliun). Ini bukanlah pasar yang stagnan. Ini adalah pasar besar yang sedang didorong menuju standar institusional.

Inilah mengapa salah satu diskusi kebijakan yang menarik di Teamz Summit adalah sesi "CBDC dan Stablecoin Swasta: Visi Jepang untuk Masa Depan Uang" yang melibatkan Kementerian Keuangan Jepang, JPYC, Progmat, dan Deloitte.

Sinyal yang paling jelas adalah arah regulasi. Pada tahun 2025, FSA menerbitkan sebuah makalah diskusi yang menyatakan bahwa aset kripto semakin diakui sebagai target investasi dan mencatat bahwa lebih dari 1.200 investor institusional di Amerika Serikat telah berinvestasi dalam ETF bitcoin spot, bersamaan dengan alokasi oleh investor jangka panjang seperti dana pensiun publik.

Pada Februari 2026, kelompok kerja FSA melangkah lebih jauh, merekomendasikan agar aset kripto dipindahkan dari kerangka Undang-Undang Layanan Pembayaran ke Undang-Undang Instrumen Keuangan dan Bursa, dengan aturan yang setara dengan bisnis instrumen keuangan tradisional, termasuk aturan perdagangan orang dalam, pengungkapan yang lebih ketat, dan pengawasan yang lebih ketat.
Hal ini menunjuk pada proposisi institusional nyata Tokyo: jalur keuangan yang patuh. Jepang sudah memiliki salah satu model stablecoin paling konservatif di dunia. Kerangka kerja FSA hanya mengizinkan penerbitan oleh bank, penyedia layanan transfer dana, dan perusahaan kepercayaan, dengan perlindungan penebusan yang terintegrasi.

Selain itu, perusahaan infrastruktur seperti Progmat sedang mengembangkan sekuritas yang ditokenisasi dan sistem stablecoin dengan dukungan setara bank dan ambisi lintas rantai, sementara METI terus mengkategorikan Web3 sebagai proyek lingkungan bisnis nasional daripada tren konsumen yang sementara.

Namun, Tokyo belum menjadi pusat institusional yang matang. Kekuatan Jepang dalam kepatuhan juga bisa menjadi hambatannya. Peluncuran produk dilakukan dengan hati-hati, perizinan tetap ketat, dan perusahaan global masih membandingkan Tokyo dengan yurisdiksi yang menawarkan likuiditas lebih dalam dan komersialisasi lebih cepat. Bahkan materi FSA sendiri menegaskan bahwa perlindungan pengguna, keamanan siber, operator tak terdaftar, dan penegakan hukum terhadap penyalahgunaan pasar tetap menjadi titik tekanan yang belum terselesaikan.

Kemenangan Jepang dalam Hal Pajak Kripto: Yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Jadwal Tahun 2028

Kemenangan Jepang dalam Hal Pajak Kripto: Yang Perlu Anda Ketahui Mengenai Jadwal Tahun 2028

Jepang telah menyelesaikan reformasi pajak kripto bersejarah, dengan beralih ke tarif tetap sebesar 20% dan menghapuskan pajak yang dijuluki "pembunuh startup". read more.

Baca sekarang

Jadi, bisakah Tokyo menjadi pusat kripto institusional yang lebih serius? Ya, tetapi kemungkinan besar bukan dengan mengungguli siapa pun dalam hal spekulasi. Jalur yang lebih kuat bagi Tokyo lebih sempit namun lebih tahan lama: infrastruktur yang tepercaya, infrastruktur tokenisasi, dan kerangka hukum yang kokoh bagi institusi yang lebih mementingkan kepastian daripada kecepatan.

Jika Jepang dapat mengubah arsitektur tersebut menjadi skala yang dapat diterapkan, Tokyo akan menjadi penting bukan karena menjadi pasar kripto paling ramai di Asia, melainkan karena berpotensi menjadi salah satu tempat teraman untuk membangun.

Tag dalam cerita ini